Pasca panen Produk Hortikultura
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan
negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada
sektor pertanian. Saat ini sektor pertanian sangat prospektif untuk
dikembangkan, karena didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia
yang melimpah, penerapan teknologi,
dan pemasaran dalam mendukung pengembangan usaha pertanian. Salah satu sektor
pertanian yang memegang peranan penting dan perlu dikembangkan adalah
hortikultura khususnya tanaman sayuran yaitu kentang dan wortel. Kentang (Solanum tuberosum L.) dan wortel (Daucus carota L.) merupakan komoditas
sayuran yang memiliki peran penting dalam menunjang ketahanan pangan maupun
sebagai usaha dalam bidang pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk makanan
pokok utama manusia disamping gandum, padi, dan jagung. Produksi kentang di
Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 1.347.815 ton
dengan konsumsi per kapita per tahun sebesar 2,294 kg pada tahun 2015. Konsumsi kentang
masyarakat Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan masyarakat Eropa
yang mencapai 9,4 kg/tahun pada 2006. Umbi kentang dapat digunakan sebagai
pengganti nasi mengingat kandungan nutrisi utama berupa karbohidrat sekitar
18%, protein 2,4%, lemak 0,1%,
dan total
energi sekitar 80 kkal/100 g dengan kandungan vitamin C sebesar 31 mg/100 g (Broto et al., 2017).
Kentang mempunyai laju
respirasi dan laju produksi etilen yang sangat rendah, sehingga mengindikasikan
bahwa umbi kentang memiliki daya simpan yang cukup lama. Waktu penyimpanan kentang yang lama akan mengakibatkan
kerusakan baik secara fisik, kimia, dan mikrobiologis. Peningkatan produksi
dapat dilakukan dengan menerapkan teknik budidaya yang tepat dan penanganan
pasca panen yang intensif (Broto et al.,
2017).
Wortel (Daucus carota L.) adalah tumbuhan jenis
sayuran umbi berwarna kuning kemerahan atau jingga kekuningan dengan tekstur
serupa kayu. Tanaman ini menyimpan cadangan makanan di dalam umbi, batangnya
pendek, memiliki akar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi
bulat dan memanjang. Produksi wortel di Indonesia pada tahun 2012 sebesar
465.534 ton, dengan rata-rata pertahun antara 2005-2012 sebesar 476.370 ton
pertahun (BPS, 2013). Tanaman
wortel memiliki kandungan senyawa aktif, seperti protein, karbohidrat, lemak. Wortel
juga kaya akan vitamin A, B kompleks, C, D, E, K, dan antioksidan (Hartiwiningsih et
al., 2012).
Wortel memiliki sifat perishable
yang artinya sayuran sangat mudah rusak dan busuk sehingga pemanenan harus dilakukan dengan
hati-hati. Masalah
yang terjadi pada pascapanen wortel adalah produk mudah mengalami kerusakan
akibat masih berlangsungnya proses fisiologis.
Penanganan yang tidak optimal dapat menyebabkan
wortel mengalami susut bobot dan mutu (Hartiwiningsih et al., 2012).
Komoditas hortikultura
tetap melakukan proses respirasi dan metabolisme setelah panen. Kerusakan pada komoditas hortikultura sebesar
20%-40% disebabkan oleh ketidaktepatan
waktu panen, kerusakan mekanis, fisik, dan fisiologis. Penanganan pasca panen yang kurang
intensif merupakan salah
satu kendala pemasaran produk hortikultura baik di dalam negeri
maupun di luar negeri. Hal tersebut
mengakibatkan penurunan kualitas atau mutu komoditas hortikultura (Winarno
dan Aman, 1981).
Umbi kentang dan wortel
yang telah dipanen sering kali mengalami kerusakan akibat pengangkutan hasil
produk dari lapangan sehingga hasil panen terbuang sia-sia. Kegiatan
secara intensif yang dilakukan pada setiap tahapan
dari kegiatan budidaya di lapangan, pengangkutan, perlakuan pasca panen dengan
mempertimbangkan kondisi lingkungan penyimpanan seperti suhu dan kelembaban,
sampai dengan pemasaran dapat
meminimalisir kerusakan. Sayuran yang selesai dipanen harus
segera dilakukan penanganan pasca panen agar mutunya dapat dipertahankan tetap
tinggi serta kehilangan hasil dapat dikurangi atau dihilangkan, sehingga mutu
kentang dan wortel bisa mendekati standar yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.
1.2.Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini antara
lain:
1. Mengetahui
pengertian dan pentingnya teknologi pasca panen
2. Mengetahui
teknologi pasca panen pada wortel
3. Mengetahui
teknologi pasca panen pada kentang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian dan Pentingnya Teknologi
Pasca Panen
Penanganan
pasca panen dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau perlakuan yang
dilakukan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas tersebut sampai
ketangan konsumen. Menurut Kitinoja dan Kader (1993), pasca panen dimulai sejak komoditas
dipisahkan dari tanaman (dipanen) dan berakhir bila komoditas tersebut
dikonsumsi. Purniati et al. (2017) menyatakan
bahwa secara umum penanganan pasca panen terhadap sayuran meliputi pencucian,
perbaikan bentuk kulit permukaan (curing),
sortasi, grading, pengemasan, dan
penyimpanan ataupun pendistribusian. Penanganan pasca panen bertujuan agar mutu
sayuran tetap baik seperti pada saat dipanen (Rismawati, 2010) sehingga dapat meningkatkan kualitas
atau mutu sayur dan dapat memberikan nilai tambah bagi sayur. Hal tersebut dapat memberikan nilai
pada produk dan
dapat meningkatkan keuntungan bagi pengusaha sayur. Konsumen juga memperoleh keuntungan karena kualitas komoditi sayuran dalam mutu
terbaik.
Komoditas
hortikultura harus sesegera mungkin diberi penanganan pasca panen agar
kualitasnya tetap terjaga dan memperkecil berbagai bentuk kehilangan (Kasmire,
1985). Penanganan
pasca panen secara spesifik dalam
penyimpanan terhadap komoditas hortikultura meliputi faktor-faktor penyimpanan, penyimpanan
dingin dan penyimpanan atmosfer terkendali. Penanganan pasca panen hasil
hortikultura yang umumnya dikonsumsi segar dan mudah rusak (perishable), bertujuan untuk mempertahankan
kondisi segarnya dan mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki selama
penyimpanan, seperti pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, batang bengkok, buah
keriput, polong alot, ubi berwarna hijau (greening),
terlalu matang, dan lainnya. Perlakuan dapat berupa pembersihan, pencucian,
pengikatan, curing, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dingin, pelilinan
dan lain-lain (Mutirawati, 2007).
2.2. Teknologi Pasca Panen Pada Wortel
Wortel adalah salah satu komoditas hortikultura yang
penting. Tanaman wortel dapat dipenen setelah berumur ± 3
bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya. Penanganan pasca panen pada wortel perlu dilakukan agar
kualitas wortel tetap terjaga dengan baik. Kegiatan penanganan
pasca panen yang dilakukan untuk mempertahankan kesegaran wortel yaitu:
1. Pemanenan,
kegitan pemanenan wortel dilakukan sebelum pukul 12.00 untuk mencegah
kehilangan hasil yang lebih banyak akibat suhu yang tinggi (Purniati et al., 2017). Menurut Hartiwiningsih et al. (2012), waktu panen wortel yaitu pagi, siang, atau sore berpengaruh terhadap kualitas
umbi yang dipanen. Waktu yang baik untuk
melakukan pemanenan adalah pada pagi hari antara pukul 07.00–10.00 atau pada
sore hari antara pukul 15.00–18.00, pada saat cuaca cerah atau tidak hujan.
2. Grading,
yaitu kegiatan pemisahan wortel berdasarkan kualitasnya dan dibagi menjadi
grade A dan grade B. Wortel grade A yang
memiliki kualitas warna orange cerah, lurus, tidak busuk, tidak berakar, tidak
berkayu atau keras, dan tidak bercabang.
Kuantitas wortel grade A yaitu memiliki diameter 2,5 cm-3,5 cm, panjang
14 cm-20 cm, dan isi per kg mencapai 10–12 buah wortel (Purniati et al., 2017).
3. Sortasi,
yaitu kegiatan memisahkan wortel yang bagus dengan wortel yang jelek (rusak). Kegiatan sortasi dilakukan dengan cara
memisahkan wortel memenuhi standar mutu dengan wortel yang busuk, berkayu dan
bercabang. Wortel yang memenuhi standar
mutu disortir kembali untuk memisahkan wotel yang memiliki ukuran besar dan
kecil (wortel baby) serta wortel
curah (Purniati et al., 2017).
4. Pengemasan,
dilakukan untuk melindungi produk dari gesekan yang menyebabkan kerusakan fisik
dan dapat mempermudah dalam pengangkutan, pemasaran serta pendistribusian.
Pengemasan sayur menggunakan film plastik akan menambah umur simpan. Film
kemasan akan memberikan lingkungan yang berbeda pada komoditas yang disimpan
karena laju perembesan O2 ke dalam kemasan dan CO2 keluar
kemasan sebagai akibat proses respirasi, berbeda-beda tergantung dari jenis dan
sifat kemasan yang digunakan (Purniati et
al., 2017).
5. Penyimpanan
Penyimpanan menggunakan
media biji plastik adalah salah satu metode sederhana yang diduga dapat memperpanjang
umur simpan produk hortikultura, sebab dapat menekan laju respirasi dan
transpirasi. Penelitian yang
dilakukan oleh Ferdiansah et al. (2014),
penyimpanan menggunakan media biji plastik dilakukan dengan berbagai metode
yaitu banyaknya air di bawah tinggi permukaan biji plastik (a), banyaknya air
setara dengan tinggi permukaan biji plastik (b), dan banyaknya air di atas
tinggi permukaan biji plastik (c).
Gambar 1. Metode penyimpanan dengan biji plastik
Sumber:
Ferdiansah et al. (2014)
Penggunaan air pendingin pada penyimpanan
biji plastik dipercaya dapat menurunkan suhu di dalam ruang penyimpanan. Air pendingin
pada penyimpanan digunakan untuk mempertahankan suhu pada media penyimpanan.
Perbedaan jumlah pemberian air pendingin memberikan pengaruh terhadap suhu pada
media penyimpanan (Hartiwiningsih, 2012).
Hasil penelitian Ferdiansah et al. (2014), yaitu umur simpan wortel pada media biji plastik
lebih lama dari pada perlakuan kontrol. Perbedaan jumlah air pendingin relatif
tidak berpengaruh terhadap suhu di dalam media penyimpanan, walaupun ada kecenderungan
permukaan air lebih tinggi menghasilkan suhu udara pada media penyimpanan lebih
rendah. Suhu udara
dalam media biji plastik lebih rendah
dari suhu ruang, hal ini dikarenakan diluar wadah media penyimpanan biji plastik di lakukan
pemberian air pendingin
dimaksudkan agar suhu di dalam udara
dalam media penyimpanan biji plastik dapat turun dan lebih rendah dari suhu
ruang. Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat aktivitas enzim dan
reaksi-reaksi kimia serta
memperlambat pertumbuhan mikroba.
2.3. Teknologi Pasca Panen pada Kentang
Kentang
adalah komoditas hortikultura (sayuran) yang sangat penting. Tanaman kentang
dipanen pada umur 90-160 hari setelah tanam (HST) dan hasilnya beragam
tergantung kultivar, wilayah produksi, dan kondisi pemasaran. Penanganan pasca panen perlu dilakukan agar mutu kentang tetap
baik. Kegiatan pasca panen kentang meliputi pencucian,
pemilihan (sortasi), pengkelasan (grading),
pengemasan, dan penyimpanan.
1. Pencucian, umbi kentang yang telah dipanen,
dibersihkan dengan cara memasukkannya kedalam bak air. Pencucian bertujuan
untuk menghilangkan kotoran, residu pestisida, dan sumber-sumber kontaminasi.
Biasanya ditambahkan suatu bahan kimia yaitu klorin kedalam air pencucian yang
bertujuan untuk mengendalikan mikroorganisme. Klorin efektif bila larutan
dijaga pada pH netral. Perlakuan klorin dengan konsentrasi 100-150 ppm dapat
membantu mengendalikan patogen selama proses lebih lanjut. Setelah itu, bahan
dikeringkan dengan cara meniriskan dan memberikan udara (Muchtadi, 1996).
2. Penyortiran
dan Pengkelasan, yaitu memilih
umbi kentang yang secara fisik dan fisiologis mempunyai kondisi yang baik. Umbi
kentang yang baik memiliki ciri yaitu bentuk bulat atau oval, warna kulit
kentang tergantung varietas misalnya varietas Granola berwarna kuning, umbi
kentang yang jelek memiliki ciri yaitu bentuk tidak beraturan, warna kulit hijau,
dan ada bercak-bercak hitam akibat serangan hama dan penyakit. Menurut Peleg
(1985) kriteria penyortiran berdasarkan pada warna, bentuk, berat, kerusakan
mekanis dan busuk, serta derajat kematangan. Pengkelasan dilakukan dengan
mengelompokkan umbi kentang yang baik kedalam beberapa kelas berdasarkan ukuran
umbi.
3. Pengemasan, yaitu kegiatan memasukkan dan
menyusun hasil panen kedalam suatu wadah atau tempat yang cocok dan baik
sehingga komoditi tersebut terlindungi dari kerusakan mekanis, fisiologis, kimiawi,
dan biologis. Pengemasan bertujuan untuk melindungi hasil terhadap kerusakan,
mengurangi kehilangan air, dan mempermudah dalam hal pengangkutan dan
perhitungan (Satuhu, 2004). Menurut
Rahardi (1993) kemasan yag baik memiliki syarat-syarat yaitu tidak toksik, dapat menjamin
sanitasi dan syarat-syarat kesehatan, serta ukuran, bentuk, dan berat harus
sesuai dengan bahan yang akan dikemas.

Gambar 2. Pengemasan kentang
Sumber: Diwa et al. (2015).
4. Penyimpanan
Umbi
kentang disimpan pada suhu 150C-250C dan kelembaban
85%-95% selama 10 hari atau lebih untuk meningkatkan pembentukan peridermis dan
penyembuhan luka akibat panen. Setelah penyembuhan, suhu penyimpanan
diturunkan, besarnya penurunan suhu bergantung pada lamanya penyimpanan.
Kondisi penyimpanan yang paling ideal adalah ruangan yang dilengkapi pengaturan
kelembaban dan suhu yang tepat. Berbagai
tipe penyimpanan berskala besar yang modern, kentang disimpan pada tumpukan
yang besar atau di dalam ruangan. Tumpukan tersebut bila terlalu besar dapat
mengganggu ventilasi dan menyebabkan rusaknya umbi yang berada di lapisan bawah
tumpukan. Sebagian besar produsen memiliki ruang penyimpanan bersuhu rendah
untuk memperpanjang umur simpan dan menyediakan pasokan kentang secara terus
menerus (Rismawati, 2010). Wadah penyimpanan dapat menggunakan kotak kayu,
krat, keranjang, atau waring. Penyusunan wadah berisi umbi kentang harus
dilakukan secara rapih (Diwa et al.,
2015).
Menurut Broto et al., (2017), penyimpanan umbi kentang
dapat dilakukan dengan rekayasa pencahayaan untuk mempertahankan kesegarannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan umbi kentang GM-05 menggunakan
pencahayaan 100-500 lux/lilin pada suhu 10oC memberikan susut bobot
terendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan suhu ambient dan
20oC. Penyimpanan pada suhu 10oC menggunakan pencahayaan
100-500 lux/lilin merupakan metode terbaik untuk penyimpanan umbi kentang GM-05
untuk mempertahankan mutu dan kesegarannya hingga 56 hari.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan
makalah ini dapat disimpulkan bahwa :
1.
Penanganan pasca panen dapat diartikan
sebagai suatu tindakan atau perlakuan yang dilakukan pada hasil pertanian
setelah panen sampai komoditas tersebut sampai ketangan konsumen. Penanganan
pasca panen bertujuan agar mutu sayuran tetap baik seperti pada saat dipanen.
2.
Penanganan pasca panen pada wortel
meliputi pemanenan, grading, sortasi yaitu memisahkan wortel yang bagus dan
yang rusak, pengemasan yang dapat dilakukan dengan film plastik, penyimpanan
yang dapat dilakukan dengan
biji plastik dan air dingin.
3.
Penanganan pasca panen pada kentang
meliputi pencucian, penyortiran dan pengkelasan penyortiran, pengemasan, dan
penyimpanan pada suhu dingin serta rekayasa pencahayaan.
3.2. Saran
Perlunya
peningkatan penelitian terhadap teknologi pasca panen produk pertanian agar
produk dapat disimpan dalam waktu lebih lama.
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Pusat Statistik. 2013. Produksi Sayuran di Indonesia 1997-2013. http://www.bps.go.id . Diakses pada tanggal: 26 September
2018.
Broto, W., D. A. Setyabudi., Sunarmani., Qanytah, dan I. B. Jamal. 2017. Teknologi penyimpanan umbi kentang (Solanum
tuberosum l.) Var. gm-05 dengan rekayasa pencahayaan untuk mempertahankan
kesegarannya. Jurnal Penelitian Pasca Panen Pertanian. 14(2): 116 – 124.
Diwa,
A. T., M. Dianawati., dan A. Sinaga. 2015. Petunjuk
Teknis Budidaya Kentang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp) Jawa
Barat Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,
Lembang.
Ferdiansah, Tamrin, dan
Oktavri. 2014. Pengaruh media
penyimpanan (biji plastik) terhadap umur simpan wortel segar (Daucus carrota
L.). Jurnal Teknik
Pertanian Lampung. 3(2): 111-118.
Hartiwiningsih, R. ,
Tamrin, Oktafri, dan R. Hartanto. 2012. The influence of storage media and
cooling water use to life storage of fresh carrot (Daucuss carrota L.). Jurnal Indonesia
Agr. Eng.
Kasmire,
R. F., 1985. Preparation for Fresh Market
of Vegetables, In Kader, Adel A., et.al. (Eds). Postharvest Technology of
Horticultural Crops. Cooperative Extension, University of California,
Division of Agriculture and Natural Resources.
Kitinoja,
L., dan A.A. Kader. 1993. Small-Scale
Post Harvest Handling Practices: A Manual for Horticultural Crops.
Departemen of Pomology, University of California. Davis, California.
Muchtadi,
D., B. Anjarsari. 1996. Penanganan pasca panen dalam meningkatkan nilai tambah
komoditas sayuran. Prosiding Seminar
Nasional Komoditas Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.
Mutirawati,
T. 2007. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. Disampaikan pada: workshop
pemandu lapangan I (PL-1) Sekolah Lapangan Pengolahan Dan Pemasaran Hasil
Pertanian (SL-PPHP). Dep. Pertanian.
Peleg,
K. 1985. Produce Handling Packaging and
Distribution. Publishing Company, Inc. Westport, Israel.
Purniati,
K. L., C. Fatih., dan M. Zaini. 2017. Penanganan pasca panen pada wortel
organik di Yayasan Bina Sarana Bakti. Jurnal
Agrinisnis. 2(1): 47-50.
Rahardi,
F., R. Palungkun, A. Budiarti. 1993. Agribisnis
Tanaman Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rismawari,
L. 2010. Penanganan pasca panen kentang (Solanum
tuberosum l.) di hikmah farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Pertanian, IPB, Bogor.
Satuhu,
S. 2004. Penanganan dan Pengolahan Buah.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Winarno,
F.G., dan M. Aman. 1981. Fisiologi Lepas
Panen. Sastra Hudaya, Jakarta.

Komentar
Posting Komentar