Laporan Pengendalian Hayati
LAPORAN
PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI
(PNA 2533)
ACARA
II
Eksplorasi Antagonis

Oleh :
Rombongan 1
Kelompok 3
1.
Prihatini Puji L. (A1D016137)
2.
Delfita Mutiara A.L (A1D016145)
3.
Zaqiatul Fakhiroh (A1D016229)
4.
Muhammad Fahmi (A1D115054)
5.
Nur Khasanah M. (A1D116003)
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
LABORATORIUM PERLINDUNGAN TANAMAN
PURWOKERTO
2018
I.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Terlampir (pada halaman )
B.
Pembahasan
Eksplorasi antagonis adalah kegiatan
yang dilakukan untuk mendapatkan antagonis untuk pengendalian hayati terhadap
organisme pengganggu tanaman. Pemilihan antagonis sebaiknya mempunyai sifat
mampu beradaptasi dengan lingkungan, tumbuh dengan cepat, dan toleran terhadap
antagonis lain. Menurut Farida (1992), eksplorasi merupakan langkah awal untuk
mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan
dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel
hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di
laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ).
Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: (1) dapat menghambat
pertumbuhan patogen tanaman, (2) berkecambah dan tumbuh dengan cepat, (3) tahan
atau toleran terhadap antagonis lain, (4) persisten dalam keadaan ekstrim, (5)
dapat diproduksi secara massal, dan (6) tidak menyebabkan gangguan terhadap
tanaman.
Eksplorasi antagonis pada praktikum
berasal dari tanah dekat perakaran tanaman karena terdapat banyak nutrisi yang
dibutuhkan mikroorganisme sehingga lebih mudah untuk mendapatkan mikroorganisme
antagonis. Menurut Dewi (2015), eksplorasi antagonis dari rizosfer tanaman pada
umumnya lebih mudah dibandingkan dari sampel daun atau bagian tanaman yang
lain, karena di rizosfer banyak terdapat senyawa-senyawa organik yang sangat
berguna bagi pertumbuhan beberapa mikroorganisme, termasuk jamur antagonis.
Senyawa organik yang dikeluarkan tanaman melalui akar dapat berupa eksudat,
sekresi, plant mucilage, mucigel, dan lisat. Jenis tanaman dan
jenis tanah sangat menentukan jenis antagonis yang ditemukan. Misalnya, Gliocladium banyak terdapat di rizosfer
tanaman tebu, atau tanaman kacang-kacangan (leguminaceae). Beberapa antagonis
lain seperti Trichoderma mampu tumbuh
pada jaringan tanaman sakit, atau yang telah lapuk, selain juga banyak
ditemukan di tanah kompos.
Berdasarkan materi yang didapatkan
saat praktikum, eksplorasi dari sampel tanah dilakukan dengan pengenceran
bertingkat. Pengenceran untuk bakteri biasanya lebih banyak daripada
pengenceran pada jamur. Jamur hanya dilakukan 2 kali seri pengenceran. Hasil
biakan bakteri Pseudomonas
menunjukkan permukaan licin dengan tepi halus dan berwarna kuning kehijauan
pada media King’B. Biakan Bacillus
sp. biasanya berbentuk bulat atau tidak beraturan dengan tepi bergerigi. Biakan
jamur T. virens memiliki ciri-ciri
konsentris, melingkar atau menyebar. Biakan jamur T. koningii mengubah media menjadi berwarna kuning. Biakan jamur T. harzianum tidak mengubah warna media.
Bakteri gram positif merupakan ciri dari antagonis, sedangkan gram negatif
merupakan ciri dari patogen.
Langkah awal yang perlu dilakukan untuk
eksplorasi jamur dari sampel tanah menurut Farida (1992) adalah menentukan
jenis tanaman dan jenis tanah. Tanah di sekitar perakaran (rizosfer) tanaman
digali sedalam 0-30 cm. Sampel tanah yang telah didapatkan kemudian diisolasi
di laboratorium dengan metode pengenceran bertingkat (serial dillution)
hingga 10-3-10-6. Suspensi hasil pengenceran dituangkan/ditumbuhkan
pada media Water Agar (WA) dan
diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni-koloni yang tumbuh diisolasi kembali
dengan ditanamkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan
diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara
makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis
dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.
Praktikum
acara 2 yaitu eksplorasi antagonis dari tanah disekitar perakaran tanaman.
Eksplorasi antagonis dilakukan dengan melarutkan 10 gram tanah dari perakaran
tanaman pisang sehat ke dalam air steril, kemudian dilakukan pengenceran
sebanyak 10 kali (pengenceran 10-10). Suspensi dari pengenceran 10-9
dan pengenceran 10-10 dipindahkan ke media NA. Hasil biakan
diinkubasi selama 2 hari pada suhu ruang dan diamati setiap hari. Menurut Wasteson
and Hornes, (2009) tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu memperkecil atau
mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya
atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba
dalam sampel. Perbandingan 1 : 9 digunakan untuk sampel dan pengenceran pertama
dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel
mikroorganisma dari pengenceran sebelumnya.

Gambar 5. Pelarutan tanah ke dalam
air steril.
(Zaqia, 2018)

Gambar 6. Pengenceran suspensi
bakteri
(Zaqia, 2018)

Gambar 7. Hasil pengenceran suspensi bakteri
(Zaqia, 2018)
Hasil praktikum acara 2 tentang eksplorasi antagonis diperoleh informasi bahwa pada pengamatan 1,
biakan bakteri pada pengenceran 10-9 tampak sudah terbentuk 4 koloni
bakteri. Bentuk koloni tidak beraturan berwarna putih lebih pekat di bagian
tengah dan berwarna putih bening pada bagian tepinya. Bagian tepi bakteri tidak
rata dan berbentuk seperti gerigi. Biakan bakteri pengenceran 10-10
pada pengamatan 1 belum terlihat jelas koloninya, berwarna putih bening dan
bentuknya tidak beraturan. Menurut (Djaenudin dan Muis, 2015) koloni bakteri
pada medium agar berbentuk bundar, tepi tidak teratur, permukaan tidak
mengkilap, menjadi tebal dan keruh (opaque),
kadang-kadang mengkerut dan berwarna krem atau kecoklatan. Bentuk koloni agak
bervariasi pada media yang berbeda. Koloni meluas pesat pada medium yang
berpermukaan lembap. Biakan bakteri dari medium padat tidak mudah larut dalam
air. Pertumbuhan pada medium cair (broth)
keruh, berkerut, dengan pelikel yang koheren, tidak keruh atau hanya agak
keruh.

Gambar 1. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak depan pada pengenceran 10-9
pengamatan hari pertama.
(Fahmi, 2018)

Gambar 2. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak belakang pada pengenceran 10-9
pengamatan hari pertama.
(Delfita, 2018)

Gambar 3. Koloni bakteri dari perakaran
tanaman pisang sehat tampak depan pada pengenceran 10-10 pengamatan
hari pertama.
(Zaqia, 2018)

Gambar 4. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak belakang pada pengenceran 10-10
pengamatan hari pertama.
(Zaqia, 2018)
Pengamatan hari kedua pada biakan
bakteri pengenceran 10-9 menunjukkan koloni lebih lebar daripada
pengamatan pertama, bentuknya tidak beraturan dengan bagian tepi bergerigi,
berwarna putih bening dengan bagian tengah lebih pekat. Terdapar 4 koloni
bakteri yang nampak jelas. Pengamatan hari kedua pada bakteri pengenceran 10-10
menunjukkan koloni lebih lebar dengan pertumbuhan menyebar, dan berwarna putih
bening. Menurut Sabdaningsih et al.
(2013), bahwa pada
umumnya bentuk koloni bakteri berbentuk circular,
irregular, filamentous, rhizoid. Elevasi berbentuk raised, convex, flat, umbonate, crateriform. Tepian yang berbentuk entire, undulate, filiform, curled dan lobate.

Gambar 4. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak depan pada pengenceran 10-9 pengamatan
hari kedua.
(Maulida, 2018)

Gambar 4. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak belakang pada pengenceran 10-9
pengamatan hari kedua.
(Maulida, 2018)

Gambar 4. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak depan pada pengenceran 10-10 pengamatan
hari kedua.
(Prihatini, 2018)

Gambar 4. Koloni bakteri dari
perakaran tanaman pisang sehat tampak belakang pada pengenceran 10-10 pengamatan
hari kedua.
(Fahmi, 2018)
Pengujian katalase dilakukan dengan
mengambil koloni bakteri kemudian ditetesi dengan larutan H2O2 10%.
Hasil pengujian bakteri pada pengenceran 10-9 tampak bahwa koloni tidak
menghasilkan buih (gelembung udara), dan pada pengenceran 10-10 juga
tidak terlihat adanya buih. Hal tersebut menunjukkan bahwa bakteri yang diuji adalah bakteri gram
negatif. Menurut Hadioetomo, (1993), beberapa bakteri yang memiliki flavoprotein dapat
mereduksi O2 dengan menghasilkan hidrogen peroksida (H2O2)
atau superoksida (O2-). Kedua bahan ini merupakan bahan yang toksik
dan menghancurkan kompenen sel dengan sangat cepat. Bakteri harus dapat
mempertahankan diri seperti dengan produksi O2 atau akan terbunuh. Katalase adalah enzim yang
mengkatalisasikan penguraian hidrogen peroksida (H2O2)
menjadi air dan O2. Hidrogen peroksida terbentuk sewaktu metabolisme
aerob, sehingga mikroorganisme yang tumbuh dalam lingkungan aerob dapat
menguarikan zat toksik tersebut. Uji katalase ini dilakukan untuk
mengidentifikasi kelompok bakteri bentuk kokkus, dalam membedakan Staphylococcus dan Streptococcus. Kelompok Streptococcus bersifat katalase negatif
dan Staphylococcus bersifat katalase
positif. Penentuan adanya katalase ini terlihat dari pembentukan gelembung
udara di sekitar koloni setelah ditambahkan larutan H2O2 3%.

Gambar 7. Hasil uji katalase pada pengenceran bakteri
10-9 tidak berbuih
(Zaqia, 2018)

Gambar 7. Hasil uji katalase pada pengenceran bakteri
10-10 tidak berbuih
(Maulida, 2018)
Pengujian reaksi gram dilakukan
dengan mengambil koloni bakteri kemudian ditetesi dengan larutan KOH 3%.
Hasil pengujian bakteri pada pengenceran 10-9 tampak ketika cairan dihomogenkan
dengan jarum kemudian ditarik perlahan ke atas terdapat benang dan pada
pengenceran 10-10 juga terlihat adanya benang ketika
ditarik ke atas. Hal tersebut menunjukkan bahwa bakteri yang diuji adalah bakteri gram
negatif. Menurut (Kurnia et al., 2016)
uji KOH dilakukan untuk mengetahui gram strain dari bakteri. Hal ini dilakukan
sebelum dilakukan uji pewarnaan gram agar dapat dilihat kesamaan hasilnya.
Keunggulan uji KOH adalah lebih sederhana dan praktis. Adapun prosedurnya
adalah bakteri murni diambil dengan menggunakan jarum ose steril dan digoreskan
ke slide glass yang telah diisi KOH
3%. KOH bersifat positif (+) akan mengeluarkan lendir dan KOH bersifat negatif
(-) jika tidak ada lendir yang ditimbulkan. Hasil gram strain dapat diketahui
dengan mengetahui KOH positif (+) maka gram (-) dan jika KOH negatif (-) maka
gram (+).

Gambar 7. Hasil uji KOH pada pengenceran bakteri 10-9
menghasilkan benang
(Prihatini, 2018)

Gambar 7. Hasil uji KOH pada pengenceran bakteri 10-10
menghasilkan benang
(Delfita, 2018)
Tabel 1. Uji gram bakteri hasil eksplorasi
No
|
Koloni
|
Uji
KOH 3%
|
Uji
Katalase
|
||||
Benang
|
Negatif
|
Positif
|
GelembungUdara
|
Negatif
|
Positif
|
||
1
|
Pengenceran 10-9
|
Tidak putus
|
ü
|
-
|
Tidak Ada
|
ü
|
-
|
2
|
Pengenceran 10-10
|
Tidak putus
|
ü
|
-
|
Tidak Ada
|
ü
|
-
|
Berdasarkan hasil tersebut, terlihat
bahwa bakteri hasil eksplorasi dari tanah di perakaran tanaman pisang sehat adalah
bakteri gram negatif sehingga bukan termasuk antagonis. Hal tersebut dicirikan
dengan tidak putusnya benang ketika diuji dengan KOH 3% dan tidak adanya
gelembung saat uji katalase. Menurut Dewi (2015), bakteri antagonis merupakan
bakteri gram positif misalnya genus Bacillus,
Micrococcus, Corynebacterium dan lainnya yang terdapat pada rizosfer
tanaman pisang.
Genus Bacillus,
merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang, motil, menghasilkan spora
yang biasanya resisten pada panas, bersifat aerob (beberapa spesies bersifat
anaerob fakultatif), katalase positif, dan oksidasi bervariasi (Brown, 2007). B. subtilis juga merupakan kelompok bakteri antagonis yang
banyak digunakan untuk mengendalikan patogen filosfer. Akan tetapi, kelompok
bakteri ini memerlukan kelembaban sangat tinggi dan bahkan adanya air bebas di
permukaan filosfer yang teratur. Populasi bakteri antagonis di filosfer dapat
turun dengan cepat, sehingga membutuhkan penerapan yang baru (Djaenuddin dan
Muis, 2015)
Data identifikasi Pseudomonas sp
menurut Lay dan Hastowo (1992) mengatakan Pseudomonas sp bersifat Gram
negatif, batang, aerobik, bergerak, katalase positif, penguraian karbohidrat
melalui proses oksidase, beberapa spesies menghasilkan figmen yang larut dalam
air. Pendapat yang sama juga dikatakan oleh Duodorof dan Palleroni (1994) yang
memberi ciri-ciri genus Pseudomonas
Gram negatif, sel tunggal berbentuk batang lurus/bengkok, motil. Ukuran lebar
0,5-1 mikron, panjang 1,5-4 mikron.
I.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.
Isolasi jamur
dan bakteri antagonis dapat dilakukan dengan mengambil tanah pada perakaran
tanaman dan disterilkan serta dilakukan pengenceran bertingkat. Selanjutnya
penanaman pada medium PDA atau NA.
2.
Jamur dan
bakteri antagonis dapat dideteksi dengan cara fisik dan kimiawi. Pengamatan
cara fisik dilakukan dengan mengamati pertumbuhannya pada media PDA dan NA.
Secara kimiawi untuk bakteri antagonis dideteksi dengan uji KOH dan uji
Katalase, sedangkan untuk jamur dilakukan dengan uji hidrolisis pati.
3.
Pemeliharaan
jamur dan bakteri antagonis dapat dilakukan pada kondisi lingkungan yang sesuai
untuk tetap mempertahankan kemampuan antagonis.
B.
Saran
Praktikum
selanjutnya sebaiknya dilakukan eksplorasi
terhadap jamur dan dilakukan uji lebih lanjut sehingga praktikan memperoleh
pengetahuan lebih banyak mengenai praktikum eksplorasi antagonis.
DAFTAR
PUSTAKA
Agrios, G.N.
2005. Plant Pathology. Academic
Press, New York.
Aini, F.N.,
S. Sukamto, D. Wahyuni, R.G Suhesti, dan Q. Ayyunin. 2013. Penghambatan pertumbuhan
Colletotrichum gloeosporioides oleh Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii,
Bacillus subtilis dan Pseudomonas
fluorescens. Jurnal Pelita Perkebunan.
29(1): 44-52.
Aryantha,
I.N.P., D.P. Lestari dan N.P.D. Pangesti. Potensi isolat bakteri penghasil IAA
dalam peningkatan pertumbuhan kecambah kacang hijau pada kondisi hidroponik. Jurnal Mikrobiologi Indonesia. 9(2): 43-46.
Brown, A. E. 2007. Microbiological
Applications. Higher Education, New York.
Dewi, N. 2015. Uji antagonis bakteri rizosfer pisang
terhadap cendawan patogen Rhizoctonia
solani. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar.
Djaenuddin,
N. dan A. Muis. 2015. Karakteristik bakteri antagonis Bacillus subtilis dan potensinya sebagai agens pengendali hayati
penyakit tanaman. Prosiding Seminar Nasional Serealia. 489-494.
Djaenuddin,
N., N. Nonci, dan A. Muis. 2014. Viabilitas dan Uji Formulasi Bakteri Antagonis
sebagai Biopestisida Pengendalian Penyakit Hawar Upih Daun Rhizoctonia solani dan Bercak Daun Bipolaris maydis. Laporan
Akhir Tahun. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.
Duodoroff, M. and N. J. Palleroni. 1994. Genus I.
Pseudomonas. William and Wilkins Co. Baltimore.
Dwidjoseputro. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan, Jakarta.
Farida,
S. 1992. Penggunaan jamur saprob tanah untuk mengendalikan Fusarium oxysporum pada tanaman tomat (Lycopersicum esculenta). J.
IPM. 2(1): 24-29.
Ferfinia, A.
2010. Eksplorasi bakteri dan cendawan rizosfer yang berasosiasi dengan penyakit
busuk basah pada batang pepaya (Carica
papaya L.) di Pasir Kuda, Desa Ciomas, Bogor. Skripsi. Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Gofar, N., Munawar, H. Widjajanti, dan A.P. Mulya. 2014.
Eksplorasi bakteri antagonis asal jaringan dan rizosfer tanaman karet untuk
menekan pertumbuhan bakteri proteolitik pada bahan olahan karet (bokar). Jurnal
Tanah Lingk. 16(2): 61-66.
Hadioetomo,
R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam
Praktek. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Harman, G.E. 2000.
Myths and dogmas of biocontrol changes in perception derived from
research on Trichoderma harzianum. Plant Diseases. 84(4): 377-391.
Hornes, E.,
and Wasteson, Y. 2009. Pathogenic escherichia coli found in food. International Journal Of Food Microbiology.
12(3): 103-114.
Kurnia, K., N.H. Sadi, dan S. Jumianto. 2016. Isolasi
bakteri heterotrof di Situ Cibuntu, Jawa Barat dan karakterisasi resistensi
asam dan logam. Life Science.
5(1): 59-63.
Lay, B.W.
dan S. Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Rajawali Prees, Jakarta.
Munif, A., J.
Hallmann, and Sikora, R.A. 2000. Evaluation of the biocontrol activity of
endophytic bacteria from tomato against Meloidogyne
incognita. Med Fac Landbouww Univ Gent. 65(2): 471-480.
Nakata, K.,
N. Harada, K. Sumitomo, and K. Yoneda. 2000. Enhancement of plant stem growth by flocculation
of the antibiotic-producing bacterium, Pseudomonas fluorescens S272, on the
roots. Biosci, Biotechnol, Biochem. 64(3):
459-465.
Nasahi, H.C.
2010. Peran mikroba dalam pertanian organik. Tesis. Universitas Padjajaran, Bandung.
Sabdaningsih, A., A. Budiharjo, dan E.
Kusdiyantini. 2013. Isolasi
dan karakterisasi morfologi koloni bakteri asosiasi alga merah (Rhodophyta)
dari Perairan Kutuh Bali. Jurnal
Biologi. 2(2): 11-17.
Saputra, R.,
T. Arwiyanto, and A. Wibowo. 2015. Uji aktivitas antagonistik beberapa isolat Bacillus spp. terhadap penyakit layu
bakteri (Ralstonia solanacearum) pada
beberapa varietas tomat dan identifikasinya. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. 1(5): 1116-1122.
Soesanto
L. 2008.
Pengantar Pengendalian Hayati
Penyakit Tanaman, Suplemen ke
Gulma dan Nematoda. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Soesanto L.
2013. Pengantar Pengendalian Hayati
Penyakit Tanaman, Edisi 2.
Rajawali Pers, Jakarta.
Sumarsih, S.
2003. Mikrobologi Dasar. Jurusan Ilmu
Tanah Fakultas Pertanian UPN Veteran, Yokyakarta.
Tindaon, H.
2008. Pengaruh Jamur Antagonis
Trichoderma harzianum dan Pupuk Organik Untuk Mengendalikan Patogen Tular Tanah
sclerotium Rolfsii Sacc. pada Tanaman Kedelai (Glycine max L.) di Rumah Kaca.
Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera
Utara.
LAMPIRAN

Mikropipet dan tip untuk mengambil larutan
(Zaqia, 2018)

Proses pengenceran bertingkat
(Zaqia, 2018)

Komentar
Posting Komentar